[̲̲̅̅A̲̲̅̅s̲̲̅̅s̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅a̲̲̅̅m̲̲̅̅u̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅i̲̲̅̅k̲̲̅̅u̲̲̅̅m̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅h̲̲̅̅m̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅l̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅h̲̲̅̅i̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅b̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅k̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅h̲̲̅̅] Motivasi & Inspirasi Super: BELAJAR DARI 5 KESALAHAN POLA HUBUNGAN Motivasi & Inspirasi Super: BELAJAR DARI 5 KESALAHAN POLA HUBUNGAN Status YM

Saturday, 26 May 2012

BELAJAR DARI 5 KESALAHAN POLA HUBUNGAN


Pola hubungan orangtua Anda dapat menjadi pembelajaran untuk diri sendiri, bahkan bisa menjadi bekal bagi Anda dan pasangan dalam membina hubungan yang jauh lebih sehat.

Dengan begitu, Anda tak perlu lagi mengulangi kesalahan yang sama, seperti dilakukan orangtua, terutama ibu, yang selalu menomorduakan kebahagiaan dirinya. Selanjutnya, Anda bisa menikmati hubungan juga kehidupan yang jauh lebih sehat dan bahagia.

Menurut pakar hubungan, Jennifer Oikle, PhD, berikut sejumlah kesalahan yang umumnya para ibu lakukan, dan semestinya tak lagi berulang pada anak perempuannya:

1. Bertahan dalam hubungan tak sehat.
Banyak ibu yang bertahan dalam hubungan pernikahan tak sehat, dan sebenarnya menyakitkannya, demi anak-anak. Kalau Anda menjadi saksi hidup atas “pengorbanan” ibu yang mengalami hal ini, Anda mungkin telah merasakan kepedihan yang sama sepeti ibu Anda. Barangkali sekarang pun Anda tengah berada dalam hubungan yang tak sehat, dan sulit mengakhirinya karena merasa akan menyakitkan orang lain.

Untuk mengatasi kesulitan ini, Anda harus mendefenisikan kembali apa makna komitmen. Komitmen hanya akan berhasil jika Anda dan pasangan memiliki hubungan yang sehat.

Sekali saja hubungan rusak karena tindakan, perilaku, sikap dari salah satu pihak, Anda atau pasangan akan berjuang keras untuk menciptakan kembali keharmonisan dalam hubungan.

2. Mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Sebagian besar dari Anda mungkin pernah menyaksikan bagaimana ibu Anda selalu berusaha menyenangkan setiap orang, dengan mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Jika hal ini terjadi, Anda akan kesulitan untuk meminta bantuan karena prioritas Anda adalah memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan. Anda tak memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Untuk memutus pola ini, cobalah untuk memberikan prioritas pada diri sendiri dan utarakan hal tersebut kepada pasangan. Pasangan Anda takkan pernah menghargai kebutuhan Anda jika ia tak pernah tahu apa sebenarnya yang Anda butuhkan.

Hentikan bersikap bahwa Anda harus melakukan semua hal sendirian. Anda juga butuh bantuan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga misalnya, agar Anda juga punya waktu untuk diri sendiri. Mintalah bantuan kepada pasangan.

3. Selalu bertengkar.
Jika ayah dan ibu Anda sering bertengkar, mulai hal kecil hingga masalah serius, Anda tengah memelajari bahwa cinta erat kaitannya dengan sesuatu yang negatif. Hal ini dapat berdampak jangka panjang.

Ketika Anda dan pasangan menjalani hubungan yang rukun sekalipun, Anda merasa ada yang salah karena semestinya cinta itu punya bumbu pertengkaran. Alhasil, Anda menciptakan friksi yang berujung pada konflik berpasangan, karena menyontoh cara orangtua Anda mengaitkan cinta dengan pertengkaran.

Kebiasaan buruk ini bisa Anda hentikan. Kapan pun Anda mulai mengomel, mengeluh, adu argumen dengan pasangan, kontrol diri Anda.

Kenali kapan tanda-tanda ini mulai muncul? Apakah saat Anda merasa hubungan sedang baik-baik saja, dan Anda ingin menciptakan friksi? Hentikan sementara pembicaraan yang mengacu pada konflik berpasangan. Lalu pikirkan kembali, rasakan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Pulihkan kondisi yang mulai memanas dengan ucapan yang berfokus pada Anda bukan menyalahkan pasangan.

4. Mendahulukan orang lain.

Banyak ibu membuat kesalahan dengan menjadikan dirinya role model bahwa seorang ibu harus selalu mendahulukan kepentingan anak dan pasangan daripada kebahagiaannya. Tak sedikit ibu yang mengajarkan anaknya untuk memberikan seluruh hidupnya, mengorbankan segalanya dari hidupnya demi mendapatkan hubungan berpasangan yang romantis serta keluarga yang harmonis.

Ironisnya, banyak perempuan muda yang mengikuti pola sama, memberikan waktu dan perhatiannya secara penuh untuk membangun hubungan berpasangan.

Semestinya, meski sedang membina hubungan, Anda tak meninggalkan pertemanan, hobi, bahkan waktu untuk sendiri yang membantu meremajakan diri Anda.

5. Mengkritik keras diri sendiri.

Apakah Anda tumbuh dalam keluarga yang selalu mengkritik satu sama lain? Baik ayah kepada ibu dan sebaliknya, atau bahkan terlalu keras mengkritik diri sendiri.

Bersikaplah lebih ramah terhadap diri sendiri dengan tidak melakukan apa yang orangtua lakukan terhadap diri mereka.

Mulailah membangun hubungan dengan cara yang paling Anda inginkan dan tak Anda dapatkan dari orangtua. Kenali lagi diri Anda, bagaimana persepsi diri Anda.

Berterima kasihlah pada apa yang telah diberikan ibu Anda kepada Anda. Namun, perbaiki dan ubah cara orangtua membangun hubungan yang menurut Anda tak sehat. Dengan begitu, Anda tak lagi mewarisi pola hubungan yang tak sehat dari orangtua, terhadap hubungan Anda dan pasangan kini dan nanti.


0 comments:

Post a Comment