[̲̲̅̅A̲̲̅̅s̲̲̅̅s̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅a̲̲̅̅m̲̲̅̅u̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅i̲̲̅̅k̲̲̅̅u̲̲̅̅m̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅h̲̲̅̅m̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅l̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅h̲̲̅̅i̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅b̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅k̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅h̲̲̅̅] Motivasi & Inspirasi Super: CURHATAN SENIN PAGI DI LIFT Motivasi & Inspirasi Super: CURHATAN SENIN PAGI DI LIFT Status YM

Sunday, 20 May 2012

CURHATAN SENIN PAGI DI LIFT



"Selamat Pagi Bu!" sapa bapak satpam dengan ramah. "Pagi" balas Sally dengan bonus sebuah senyum manis untuk sang bapak. Hari yang cerah di sebuah gedung perkantoran megah di bilangan Jalan Jendral Sudirman.

Seperti biasa Senin pagi itu gedung kantor semuanya sibuk. Gelombang para laki-laki berdasi dan wanita bergincu mulai memasuki gedung tempat mereka bekerja.
Sally menelusuri lobi gedung kantornya itu dan menunggu di depan lift, selepas menekan tombol untuk memesan lift naik. Tampak ada beberapa orang juga yang menanti lift yang sama.

"Aduuh, Sabtu Minggu ini badan saya pegel semua Bu Ira!" terdengar suara bernada curhat dari seorang ibu separuh baya di sebelah kanan Sally. "Iya nih Bu Wanda, dua hari kemarin saya juga ngga bisa istirahat, malah ngurus rumah sama anak-anak, malah lebih sibuk di rumah daripada di kantor!" jawab temannya, dengan nada yang lebiiih curhat lagi.

Lift terbuka dan mereka melangkah memasuki lift yang dipenuhi oleh cermin tersebut.

"Tolong lantai 28 boleh Mba" pinta ibu tadi berkata kepada Sally yang kebetulan berdiri menghadap tombol pesanan lantai. "Terima kasih ya" otomatis Sally terima dari si ibu, selepas ia menekan tombol 28 tersebut, seulas senyuman manis kembali Sally layangkan.

"Iya Bu Ira, saya tuh kalo di rumah, malah ngga ada istirahatnya.. Indra sama Andien ada aja gangguin mamanya ini.. Terus, ada aja urusan di rumah, kayanya ngga ada abisnya, bebersih ini, nyuci itu, masak anu, waaah banyak banget urusan saya" sambung si ibu dengan nada sedikit kesal. "Mending saya di kantor deh, santai, kerjaan juga enak" sambungnya.

"Iya Bu Wanda, saya juga sama.. Sepertinya kok kerjaan di rumah itu ngga ada abisnya ya, sedikit-sedikit harus bersih-bersih, anak-anak ada aja permintaannya, padahal weekend itu saya pengen santai.. Boro-boro santai, napas aja ngga bisa!" balas sang kawan dengan tidak kalah antusiasnya.

Pintu lift terbuka, lantai 15.. Keluarlah Sally karena di lantai itulah kantornya berada. Wajahnya sedikit berpikir.. "Kok bisa-bisanya ya, seorang ibu lebih menikmati saat-saat di kantor, saat tidak dekat dengan hangatnya rumah, dengan lucunya anak-anak. Apa yang salah ya?" batin Sally.

******

Sobat, hari-hari begitu keras, begitu padat dengan jadwal ini itu, dengan beban pekerjaan yang seperti tiada habisnya.

Selain itu, dunia juga menyilaukan, membuat kita terkadang lupa kepada hal-hal yang seharusnya kita dekap erat, kita hargai, kita cintai.

Melalui kisah yang sederhana ini, marilah kita sama-sama 'berhenti' sejenak dan merenungkan, sebenarnya untuk siapa sebenarnya kita membanting tulang setiap hari? Untuk siapa kita memeras otak setiap saat? Untuk siapa semua jerih payah yang kita keluarkan setiap hari itu akan kita persembahkan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah yang harusnya menjadi fokus utama kita, jangan sampai kerlap-kerlip dunia fana ini mengaburkan pandangan kita terhadap hal-hal yang seharusnya kita perjuangkan, orang-orang yang seharusnya kita peluk erat.

Mari kita resapi, lalu kita lakukan sesuatu.. Sebelum semuanya terlambat..

0 comments:

Post a Comment