[̲̲̅̅A̲̲̅̅s̲̲̅̅s̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅a̲̲̅̅m̲̲̅̅u̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅i̲̲̅̅k̲̲̅̅u̲̲̅̅m̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅h̲̲̅̅m̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅l̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅h̲̲̅̅i̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅b̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅k̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅h̲̲̅̅] Motivasi & Inspirasi Super: JOROKNYA CINA Motivasi & Inspirasi Super: JOROKNYA CINA Status YM

Saturday, 2 June 2012

JOROKNYA CINA


By : Trinity
Maaf, judulnya aja udah nggak enak. Tapi ternyata memang di luar dugaan. Negara Cina dengan kemajuan ekonomi dan pembangunan yang sangat pesat itu ternyata orang-orangnya jorok abis. Gedung-gedung pencakar langit, sarana transportasi yang canggih, jalan yang luas dan bersih… tapiiii… coba cium baunya di dekat restoran, toilet umum, dan ketika terhimpit di antara bau ketek orang di Metro. Ampyuuuun! Kesimpulan ini saya ambil setelah berada di 4 kota terbesar di Cina (termasuk ibu kota Beijing), jadi cukuplah sebagai contoh.

Pertama, orang-orang doyan banget berdahak, terutama bapak-bapak. Suaranya sangat kencang, sampe ngilu dengernya sembari kasian sama pipa tenggorokan yang dipaksa. Hoaaaaaaaeeeeekkkkkkhh….. cccccuuuuuhhhh!! Udah gitu, ngeludahnya sembarangan aja di mana-mana. Bukannya ngumpet, tapi ini sih di tempat umum: di jalan, di restoran, di halte bus, di dalam kereta, dll. Bukannya melipir ke tempat sepi, tapi bisa-bisanya bertahak di antrian – sampe saya harus pasang mata agar ludahnya nggak nyiprat. Sejak itulah saya memutuskan untuk selalu pakai sepatu tertutup.

Bahkan anak-anak di bawah umur 2 tahun juga jorok. Celananya tidak ada jahitan di bagian selangkangan, jadi ya bolong aja gitu sehingga pantatnya kelihatan (padahal mereka duduk di sembarang tempat, termasuk di atas meja makan restoran). Ya, mereka tidak pakai celana dalam atau popok atau diaper. Maksudnya sih supaya orang tuanya nggak repot ganti celana kalau ngompol atau buang air besar. Anak-anak itu tinggal jongkok, keluar, dan jalan melenggok. Cilakanya, mereka pipis dan boker di sembarangan tempat: di jalan, di halte, di taman, bahkan di lantai di dalam mall! Orang tuanya juga gokil, kalau anaknya pengen boker, bukannya dibawa ke toilet, tapi digendong dan dibokerin di tempat sampah, atau jalan, atau taman! Dan kalau sudah meninggalkan ‘jejak’, kagak pernah dibersihin atau ditutupin tisu. Gilanya lagi, anak kecil gitu tokainya gede-gede bener! Rasanya saya ingin menghapus memori otak saya akibat tak sengaja memandang.

Silakan ke toilet umum di Cina. Kecuali di hotel berbintang, sisanya parah abis. Mau di museum, di temple, di stasiun, di mall… dari jarak 50 meter udah kecium baunya. Membayangkan harus ke toilet aja otomatis bikin saya muntah! Kalau mau masuk toilet, gaya saya adalah merobek tisu dan menyumpalkannya ke dalam lubang hidung. Sementara gaya Yasmin adalah memakai dua buah masker yang telah dibubuhi minyak kayu putih sampe matanya berair kepedesan. Kami berdua pun harus masuk toilet pake kaca mata hitam agar pemandangan (joroknya) agak kabur! Jangan pernah melongok ke dalam tempat sampah (yang tidak pernah ada tutupnya) ketika membuang tisu. Cewek sana cuek bener buang bekas pembalut wanita tanpa dibungkus. Jadi baunya campuran bau pesing, bau tokai, dan bau amis darah! Pokoknya di dalam toilet jadi repot gayanya: sembari napas pake mulut, megangin tas karena tidak ada gantungan, buka celana dan bersih-bersih… tapi sembari semua dilakukan dengan mata terpejam!

Dasar Cina negaranya gede, perjalanan antar kota aja memakan waktu semalaman naik kereta api. Apa yang saya takutkan? Apalagi kalau bukan toilet! Saya takut minum air putih, takut minum kopi, takut makan. Baru kali itulah saya berdoa agar saya tidak kepengen boker. Namun perjalanan selama itu mau tak mau harus ke toilet juga. Saya sampe bela-belain berjalan melalui 6 gerbong agar dapat ke toilet di gerbong Soft Sleeper. Meski gerbong termahal, namun toiletnya juga minta ampun, meski masih mending daripada di gerbong Hard Sleeper. Padahal air tersedia, teteup mereka nggak mau nyiram! Apa susahnya coba mencet tombol flush? Untung tempat duduk saya ada di tengah gerbong KA, jauh dari toilet.

Itu baru soal bau dan joroknya. Mau tau gimana bentuk toilet umumnya? Toilet umum sebagian besar sih yang model jongkok dan terbuat dari keramik. Masalahnya, orang Cina daratan tidak punya privacy. Seringnya bilik berpintu setengah eh seperempat, bahkan tanpa pintu. Jadi saat kita mengantri menghadap jejeran bilik toilet, pemandangannya adalah: ‘anu’ orang (bersama isi-isinya yang nyemplung), pintu yang menutupi badan, lalu kepala. Herannya, toilet bau gitu mereka kok tidak merasa bau – mukanya tanpa ekspresi aja gitu dan tidak menutup hidung. Kalo toilet masih ada tumpukan ‘isinya’, mereka juga cuek jongkok di atasnya dan menambah tumpukan, begitu seterusnya sampe orang kesekianratus.

Ada juga model toilet umum yang berupa bilik-bilik tembok tanpa pintu. Di balik bilik cuma ada selokan kering memanjang tempat kita buang air ke dalamnya. Udah bingung menyembunyikan diri, bingung pula gimana nyiramnya. Rupanya, di paling ujung jejeran bilik ada tangki air yang mem-flush air melalui selokan. Beruntunglah yang berada di bilik pertama, tapi kalau ada di bilik ke-15 silakan melihat segala macam kotoran dari bilik-bilik sebelah lewat di bawah kita! Arrggh!!

Paling parah adalah bentuk toilet umum di Grassland dimana rumah penduduknya aja tidak punya toilet. Untungnya meskipun saya menginap di tenda tapi tersedia toilet umum, di dalam bangunan bertembok lagi. Tapi saya shock setengah mati begitu memasuki bangunannya yang tidak berpintu dan bau yang semerbak. Ada sekitar 10 toilet jongkok (bersama cecerannya)… tapi tidak ada biliknya! Baru aja mikir gimana caranya buang air… eh masuklah dua cewek lokal yang dengan santainya buka celana, pipis dan kentut sambil ngobrol, dan pergi gitu aja nggak pake cebok dan nge-flush! Saya mau pipis aja langsung masuk lagi pipisnya karena nggak konsen diliatin orang lain, gimana kalo pengen boker coba? Pada malam hari, saya pun memilih untuk pipis di padang rumput. Lebih baik melakukannya di alam terbuka dan diliatin kuda deh!

0 comments:

Post a Comment