[̲̲̅̅A̲̲̅̅s̲̲̅̅s̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅a̲̲̅̅m̲̲̅̅u̲̲̅̅a̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅i̲̲̅̅k̲̲̅̅u̲̲̅̅m̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅h̲̲̅̅m̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅l̲̲̅̅l̲̲̅̅a̲̲̅̅h̲̲̅̅i̲̲̅̅ ̲̲̅̅W̲̲̅̅a̲̲̅̅b̲̲̅̅a̲̲̅̅r̲̲̅̅o̲̲̅̅k̲̲̅̅a̲̲̅̅t̲̲̅̅u̲̲̅̅h̲̲̅̅] Motivasi & Inspirasi Super: TENTANG SESEORANG YANG MENJADI PILIHAN HIDUP KITA Motivasi & Inspirasi Super: TENTANG SESEORANG YANG MENJADI PILIHAN HIDUP KITA Status YM

Tuesday, 4 December 2012

TENTANG SESEORANG YANG MENJADI PILIHAN HIDUP KITA


Orang selalu berkata, "Ada bekas istri atau suami, tapi tidak ada bekas anak dan bekas orangtua.” Cerita bijak berikut ini mungkin bisa sedikit mengubah pandangan tersebut dan membuat seseorang ingin memiliki suami atau istrinya sampai akhir hayat.
Seorang dosen mengadakan permainan kecil untuk para mahasiswanya yang sudah berkeluarga dan meminta satu orang maju ke papan tulis.

Dosen: “Tulis 10 nama yang paling dekat dengan Anda!"

Maka, mahasiswa itu menulis 10 nama (ada nama tetangga, orangtua, teman kerja, istri, anaknya, dst.)

Dosen: “Sekarang pilih 7 diantaranya, yang sekiranya Anda ingin hidup terus bersamanya!”

Mahasiswa itu mencoret 3 nama.

Dosen: “Silakan coret 2 nama lagi!”

Tinggal 5 nama.
Dosen: “Coret lagi 2 nama!”

Tersisalah 3 nama, yaitu nama orangtua, istri, dan anaknya.

Suasana kelas hening. Mereka mengira semua sudah selesai dan tidak ada lagi yang harus dipilih. Tetapi, tiba-tiba dosen itu berkata, "Silakan coret 1 nama lagi!”

Mahasiswa itu harus mengambil pilihan yang amat sulit. Ia lalu mencoret nama orangtuanya secara perlahan.

Dosen: “Silakan coret 1 nama lagi!”

Betapa bingungnya hati mahasiswa itu.. Kemudian ia mengangkat kapur dan dengan lambat mencoret nama anaknya sambil menangis.

Setelah suasana tenang, sang dosen bertanya kepada mahasiswa itu. "Anda tidak memilih orangtua yang membesarkanmu, dan tidak juga memilih anak yang merupakan darah dagingmu. Sedangkan istri, konon bisa dicari lagi. Tapi mengapa Anda memilih istrimu?”
Semua orang di dalam kelas menunggu jawaban dari mahasiswa itu, dengan penuh rasa ingin tahu. Lalu si mahasiswa berkata, “Seiring waktu berlalu, orangtua saya akan pergi dan meninggalkan saya. Anak saya pun jika sudah dewasa lalu menikah, pasti meninggalkan saya juga. Sedangkan yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya.

Orangtua dan anak bukan saya yang memilih tapi Tuhan yang menganugerahkan; tapi saya yang memilih sendiri ISTRI saya dari seluruh perempuan yang ada di sekitar."


0 comments:

Post a Comment